“SEKOLAH AMAN BENCANA”

Oleh : HENRI | Senin 22 Juli 2019 | 01:49 WITA
Share :

Giri Menang-- Sabtu 20 Juli 2019. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat menggelar Sosialisasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), dalam rangka Mitigasi Kesiapsiagaan Bencana Satuan Pendidikan Aman Bencana, bertempat di Hotel Puri Saron Senggigi, Sabtu (20/7/2019).

Acara ini diikuti oleh 45 orang Kepala Sekolah tingkat SMP dan SD dari Sekolah Negeri maupun Sekolah yang ada dibawah Kementrian Agama. Hadir pula Sekretaris BPBD Kabupaten Lombok Barat, Narasumber dari Plan Internasional Indonesia, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Barat, Drs.M. Hendrayadi.

Menurut Hendrayadi acara ini merupakan langkah awal dalam rangka mitigasi bencana, "mengingat bencana gempa tahun 2018 dan ada isu bahwa kedepan pulau Lombok ini akan terkena megathrust, maka perlu kita siapkan para Kepala Sekolah dan Guru agar terbiasa dengan kebencanaan terutama gempa bumi."

Lebih lanjut Hendrayadi menjelaskan bahwa regulasi tentang Mitigasi Bencana itu sudah lama ada, "sehingga diadakan sosialisasi ini untuk memberikan gambaran kepada Kepala Sekolah, agar dapat melakukan penanganan dini terhadap siswa disaat bencana terjadi pada jam sekolah atau pada proses belajar mengajar di sekolah."

Namun pada kenyataannya trauma masyarakat (orang tua) masih sangat berkepanjangan, disaat para guru dan anak-anak sudah tidak trauma justru masyarakat yg masih trauma, "Sehingga ketika digoyang sedikit, masyarakat sudah rame-rame datang kesekolah untuk membawa anak-anak pulang, oleh karenanya perlu ada pembiasaan dalam menghadapi bencana, sehingga harus ada program mitigasi bencana untuk menjadi pembiasaan di masyarakat terutama disatuan pendidikan." lanjut hendrayadi

Kedepan Kabupaten Lombok Barat melalui satuan pendidikan diharapkan bisa mewujudkan dan melahirkan Sekolah Ramah Anak, Sekolah Ramah Anak itu ada Sekolah Aman, Sekolah Sehat, dan masih banyak jenis yang lainnya. Untuk Sekolah Aman adalah sekolah Aman Bencana, "Yang sudah dilakukan di Kabupaten Lombok Barat terhadap Sekolah Aman itu, masih dalam tahap yang ringan-ringan seperti aman dari bully, aman dari intimidasi, aman dari keamanan dan ketertiban, sekarang kami tingkatkan aman terhadap bencana." kata hendrayadi

Melalui Sosialisasi ini kedepan Sekolah Aman Bencana ini perlu ada rumusan yg baik, "Narasumber dari Plan Internasional Indonesia akan memberikan tata cara mitigasi bencana di sekolah dan terkait dengan konstruksi bangunan kami akan diskusi dengan pihak PU, agar dapat dibantu khususnya untuk Kecamatan tertentu di Kabupaten Lombok Barat yang terindikasi rawan akan bencana gempa bumi harus ada standarisasi khusus tentang konstruksi bangunan, mungkin dititik-titik tertentu ada standarisasi bangunan untuk disekolah sehingga kita tidak terlalu khawatir jika terjadi gempa bumi." pungkas hendrayadi

Di tempat yang sama Wahyu Kuncoro dan Wina Natalia dari Plan Internasional Indonesia yang merupakan salah satu lembaga yang memperhatikan sekolah mengatakan bahwa kita tidak bisa menolak kondisi geografis, jadi untuk gempa bumi bukan bencana yang dibuat manusia tapi memang kondisi geografis, kita harus paham Lombok itu kondisi geografisnya seperti apa." kata Wina

Dengan memahami kondisi geografis kita harus paham bagaimana menghadapi bencana dan prilaku menghadapi bencana.

Lebih lanjut Wina menjelaskan bahwa ada 3 pilar menghadapi bencana yaitu yang pertama Fasilitas Sekolah Aman, Manajemen Bencana di Sekolah, dan Pendidikan Pengurangan Resiko dan Ketahanan Bencana. "Harus ada SOP mitigasi bencana di sekolah, apa yang harus dilakukan saat terjadi dan setelah terjadi bencana, kepala sekolah dan guru harus apa, murid harus apa, serta harus ada ruang-ruang disekolah yang bisa digunakan untuk menambah wawasan mitigasi bencana."

Mitigasi Bencana disekolah harus dimasukkan kedalam proses belajar mengajar seperti ke muatan lokal, ekskul, pramuka dan kegiatan lainnya agar pendidikan bencana bisa masuk kesekolah, "Kita lakukan latihan mitigasi bencana disekolah agar kita siap menghadapi bencana." kata Wahyu

Lebih lanjut menurut Wahyu, proses untuk orang tua bahwa tidak mesti anak-anak harus dijemput ketika ada bencana, jadi harus ada edukasi untuk orang tua agar tidak menggangu proses kegiatan belajar mengajar, tentunya tergantung bencana yang terjadi."